PKD Mapala Banten : Kerusakan Hutan Mangrove di Banten Capai 60 Persen

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Ancaman kerusakan hutan mangrove di Provinsi Banten, terbilang cukup mengkhawatirkan. Pasalnya, dari total keberadaan hutan Mangrove yang ada di wilayah Banten ini, diperkirakan kerusakannya sudah mencapai angka 60 persen lebih.

Kerusakan tersebut diakibatkan karena adanya alih fungsi lahan dan abrasi. Kondisi tersebut mendorong ratusan pegiat lingkungan yang tergabung dalam “Mangrove Camp Vol. 3” turun langsung dan melakukan aksi nyata, dengan menanam 1.000 bibit mangrove di pesisir Cibungur, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, sejak Sabtu hingga Minggu (25-26 Juli 2026) ini.

Baca Juga : YPUI Ajak Ratusan Siswa SD Mengenal Manfaat Mangrove Untuk Kehidupan

Kegiatan penanaman bibit mangrove tersebut, menurut Ketua Panitia Mangrove Camp Vol. 3, Rifki Gozali, adalah langkah awal dari aksi nyata atas keprihatinannya, sambil peringatan Hari Mangrove Sedunia, yang diikuti oleh 100 peserta dari Mapala se-Banten, Siswa Pencinta Alam (Sispala) dan berbagai komunitas pecinta lingkungan.

“Kerusakan lingkungan di Banten tidak hanya dipicu oleh lemahnya regulasi, karena masih membuka celah bagi berbagai pihak, untuk mengejar keuntungan, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat, dalam menjaga kelestarian alam,” tegas Rifki Gozali, Minggu 26 Juli 2026.

Dikatakannya juga, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Banten, bahwa tingkat kerusakan hutan mangrove di Banten telah mencapai 60 persen, dari total luas sekitar 2.600 hektare.

Baca Juga : Miliki Luas Hampir 1 Hektare, Lembur Mangrove Patikang Dibangun Pakai Dana CSR

“Kawasan pesisir seperti Teluk Banten, Kabupaten Serang, hingga wilayah pesisir utara menjadi daerah yang mengalami dampak paling serius akibat alih fungsi lahan dan abrasi,” ucapnya lagi.

“Maka itu, kegiatan Mangrove Camp ini bertujuan melestarikan alam, mencegah abrasi, serta menanamkan kesadaran kepada masyarakat, tentang pentingnya menjaga lingkungan. Harapannya, seluruh elemen masyarakat memiliki kepedulian yang sama dalam menjaga kelestarian alam,” sambung Rifki.

Dalam kegiatan tersebut, selain aksi menanam mangrove, peserta juga mengikuti berbagai kegiatan edukatif, mulai dari talkshow pengelolaan UMKM berbasis mangrove, dengan produk olahan berupa selai dan sirup mangrove, diskusi lingkungan, pentas seni tari tradisional Banten, pembacaan puisi bertema lingkungan, sharing session, pertunjukan musik, hingga praktik teknik penanaman mangrove.

Baca Juga : Lahan Mangrove Alami Degradasi, Pesisir Pandeglang Rawan Abrasi

Anisa Hermawati atau yang akrab disapa Semes, yang menjadi salah seorang peserta kegiatan dari SKALA Mapala Cilegon, menilai kegiatan ini memberikan banyak manfaat, terutama dalam membangun kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

“Kegiatan ini tidak hanya mengedukasi peserta, tetapi juga mengajak masyarakat untuk ikut berkontribusi menjaga bumi. Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, kami bersama panitia dan peserta menanam 1.000 batang mangrove di Cibungur,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (PSDP dan Ekraf) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki mengapresiasi penyelenggaraan Mangrove Camp Vol. 3 kali ini, yang dinilai memberikan dampak positif bagi pelestarian lingkungan sekaligus pengembangan sektor pariwisata.

Menurutnya, kegiatan seperti ini bukan hanya membangun kepedulian generasi muda terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai agenda wisata berbasis edukasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

“Mangrove Camp Vol. 3 memberikan dampak positif dalam menjaga lingkungan sekaligus menekan laju kerusakan hutan mangrove. Kedepan, kegiatan seperti ini juga dapat dikembangkan menjadi event wisata edukasi. Karena itu, kami sangat mendukung kegiatan ini,” ucap Mia singkat. (Adytia)

Berita Terkait