Puluhan Warga Huntap Tunggal Jaya Dalam Kecemasan Tergerus Longsor

Huntap

Kondisi tebing yang longsor di belakang kawasan bangunan Huntap Tunggal Jaya, Sumur, yang kondisinya sangat mengkhawatirkan.

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Sekitar 40 jiwa warga yang saat ini tinggal di kawasan Hunian Tetap (Huntap), yang berada di Kampung Palimping RT 02 RW 03, Desa Tunggal Jaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, sedang dilanda kecemasan, akibat kondisi tanah tempat bangunan rumah mereka saat ini, sudah berada di ujung jurang yang mulai longsor.

Dari informasi yang berhasil di himpun tim Boedak Daung Rescue (BSR) Kecamatan Sumur, bahwa di lokasi Huntap yang di bangun pemerintah pasca Tsunami Selat Sunda beberapa tahun lalu tersebut, ada sebanyak 10 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 40 jiwa, yang kondisinya bangunannya sudah mulai mengkhawatirkan, karena berada di bibir tebing tanah longsor

Baca Juga : Berdampak Negatif, Diskomsantik Setuju Judi Online Sebagai Bencana Sosial

“Longsoran tebing itu diperkirakan berada pada tinggi sekitar 15 meter, dengan lebar mencapai 50 meter. Kami menduga peristiwa itu dipicu oleh curah hujan tinggi, yang terus mengguyur wilayah ini dalam beberapa bulan terakhir,” jelas Agus Aspuri, Koordinator BSR Kecamatan Sumur, Selasa 23 Juni 2026.

Dikatakannya juga, bahwa Kondisi yang semakin mengkhawatirkan itu, hingga kini belum mendapatkan penanganan dari pihak terkait. Baik Pemerintah Kecamatan Sumur maupun Pemerintah Kabupaten Pandeglang, belum melakukan langkah konkret untuk mengatasi ancaman longsor yang terus mendekati pemukiman warga.

Baca Juga : SMK MIFA Gelar Simulasi Bencana Dalam Kegiatan MPLS 2024

“Hasil monitoring kami menunjukkan bahwa kondisi ini memang sangat mengkhawatirkan dan berpotensi membahayakan warga. Karena itu diperlukan penanganan dan langkah cepat dari pihak terkait sebelum menimbulkan korban,” tambahnya.

Agus menegaskan, pihaknya berharap pemerintah segera mengambil tindakan mengingat warga yang menempati Huntap Palimping merupakan penyintas bencana tsunami Selat Sunda 2018.

“Kami tidak ingin para penyintas tsunami Selat Sunda yang telah kehilangan banyak hal pada 2018 lalu, kembali menjadi korban akibat bencana lainnya. Karena itu perlu ada perhatian dan penanganan segera,” tegasnya

Sementara salah seorang warga, Alus (35), mengaku masyarakat hidup dalam ketakutan sejak longsor terjadi. Menurutnya, warga sulit merasa tenang, terutama saat malam hari.

Baca Juga : BPBD Klaim Pembangunan Huntap Capai 60 Persen

“Bagaimana mau tidur tenang, Pak. Kami selalu khawatir terjadi sesuatu saat malam. Sejak longsor terjadi di belakang permukiman ini, warga bingung dan berharap segera ada tindak lanjut dari pihak terkait,” ujar Alus.

Ia menjelaskan, kondisi longsoran terus melebar dan kini jaraknya semakin dekat dengan rumah-rumah warga. Bahkan, di beberapa titik hanya tersisa sekitar lima meter dari permukiman.

“Awalnya masih cukup jauh, tapi sekarang longsornya makin mendekat. Ada yang tinggal sekitar 10 meter, bahkan di beberapa titik hanya sekitar lima meter dari rumah warga,” katanya.

Kekhawatiran serupa juga disampaikan Adnan, warga lainnya. Ia mengaku tidak tenang meninggalkan rumah untuk bekerja karena khawatir keselamatan keluarganya yang berada di rumah.

“Biasanya pagi hari kami berangkat bekerja seperti biasa. Namun sejak ada longsor ini, kami selalu khawatir meninggalkan keluarga di rumah karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan,” ucapnya singkat. (Adytia)

Berita Terkait