PANDEGLANG, BINGAR.ID – Destinasi Ekowisata di Kabupaten Pandeglang, terbilang cukup potensial dan menjanjikan, sebagai salah satu industri kepariwisataan. Hal ini terbukti dengan semakin tingginya angka kunjungan ke tiga gunung yang ada di Pandeglang, baik itu Gunung Aseupan, Karang dan Pulosari (Akarsari).
Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (PSDP & Ekraf) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pandeglang, Mia Maulani Rizki mengatakan, semakin banyaknya basecamp pendakian yang dibuka dan diberikan izin oleh pemerintah, menunjukkan semakin membaiknya dukungan masyarakat terhadap ekowisata.
Baca Juga : Disparbud dan DPRD Pandeglang, Beri Pelatihan Digital pada Pelaku Pariwisata dan Ekraf
Karena pemerintah tidak akan memberikan izin, jika tidak ada dukungan dan jalinan kolaborasi antara pengelola ekowisata dengan masyarakat setempat. Dimana hal ini dikatakan Mia, pada saat Peresmian Jalur Pendakian Ekowisata Gunung Karang “Golden Sunrise Cinyurup” di Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang, Banten, Sabtu 20 Juni 2026.
“Dalam pembukaan jalur pendakian yang diklaim ramah untuk family trip yang bertema Bersama Menjaga Alam, Pariwisata Berkelanjutan ini, menjadi bukti kalau industri pariwisata di bidang ekowisata ini, sudah semakin menggeliat,” ungkap Mia
Maka itu, Kabid PSDP & Ekraf Disparbud Pandeglang ini mengaku, dengan semakin bergeliatnya ekowisata akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah setempat. Jika banyak orang yang datang, masyarakat dituntut kreatif. Karena mereka yang datang itu, bukan hanya ingin menikmati alam, tapi juga ingin punya kenangan, belanja dan punya buah tangan.
Baca Juga : Seba Baduy 2025, Dimeriahkan Gelar Budaya dan Bazar Ekraf
“Jaga kolaborasi ini sebaik mungkin, sehingga menjadi kerjasama yang saling menguntungkan, khususnya dalam pelestarian alam dan peningkatan ekonomi masyarakat,” pinta Mia.
Sementara itu, tokoh masyarakat yang juga Ketua RW Kampung Cinyurup, Juli menegaskan, unsur mistis dan religius masih menjadi pondasi kuat di masyarakat dan kawasan Gunung Karang. Untuk itu, ia menekankan agar para pendaki, menghormati kearifan lokal dan ikut menjaga alam agar tetap lestari. “Gunung hejo masyarakat bisa ngejo, gunung lestari masyarakat seuri (gunung hijau masyarakat bisa memasak, gunung lestari masyarakat tersenyum-red),” katanya.
Kepala Resort Pemangkuan Hutan (KRPH) Perhutani Gunung Karang, Muklis mengingatkan, para pendaki harus ingat tiga pilar yang harus dijaga di Gunung Karang, yakni pilar lingkungan artinya menjaga alam, pilar religi artinya berpegang teguh sesuai ajaran agama dan pilar konservasi artinya menjaga sumberdaya yang ada di gunung agar tidak punah. “Menjaga ketiga pilar itu, sama juga dengan menjaga kearifan lokal,” katanya.
Baca Juga : Jaring Atlet Muda, PPSSMI Bersama Gekrafs Pandeglang Akan Gelar Kejuaraan Pencak Silat
Sementara Pengurus Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kampung Cinyurup, Kelurahan Juhut, Gojali yang juga pengelola Basecamp Cinyurup meminta, para pendaki selalu menjaga kekompakan dan menjaga tutur kata. Karena keberhasilan pendakian bukan sampai puncak tetapi bisa kembali dengan selamat. “Tanya ke panitia atau pemandu, daerah mana saja yang tidak boleh dilalui pendaki, demi keselamatan bersama,” harapnya. (Adytia)


