Mengenal Tujuh Sosok Pahlawan asal Banten

Mengenal Tujuh Sosok Pahlawan asal Banten

Ilustrasi Hari Pahlawan (Google Images)

SERANG, BINGAR.ID – Tanggal 10 November, selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Tahun ini mengangkat tema “Pahlawanku Sepanjang Masa”. Peringatan Hari Pahlawan tidak bisa dilepaskan dari sejarah Pertempuran Surabaya yang berpuncak pada 10 November 1945.

Penatapan Hari Pahlawan Nasional ini diterbitkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959 lalu. Peringatan Hari Pahlawan Nasional untuk mengenang sejarah pertempuran 10 November 1945 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur.

Bicara soal pahlawan, Banten juga memiliki sejumlah pahlawan nasional yang ikut berjuang mengusir Belanda dari tanah air. Berikut tujuh pahlawan asal tanah jawara yang Bingar rangkum dari Bantenologi;

Baca juga: Ahmad Chatib, Salah Seorang Perintis Kemerdekaan Asal Pandeglang

1.Sultan Ageng Tirtayasa

Sultan Ageng Tirtayasa adalah Sultan Banten ke-6. Sultan Ageng Tirtayasa lahir pada tahun 1631 dan meninggal tahun 1692 di Batavia diusia ke 61 tahun. Sultan Ageng Tirtayasa adalah sosok yang tidak mau kompromi dengan kompeni, sehingga dalam masa kekuasaannya ia berhasil menekan monopoli VOC di Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa dikenal sebagai ahli strategi perang dan irigasi, ia berhasil membangun irigasi dari sungai Untung Jawa hingga ke Pontang yang bertujuan untuk memudahkan pengairan persawahan dan juga sebagai jalur transportasi.

Dalam masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa dari rentang tahun 1651-1683, ia berhasil mengantarkan Kesultanan Banten ke masa kejayaan yaitu melalui pemajuan pendidikan Agama Islam di Banten, penerapan sistem perdagangan bebas, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan Internasional. Langkah pasti yang di lakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa yaitu dengan melakukan perlawanan untuk mengusir Belanda di Banten.

2. Prof. KH. M. Syadzeli Hasan

Prof. KH. M. Syadzeli Hasan lahir di Kampung Beji, Bojonegara, Kabupaten Serang, tanggal 24 Oktober 1914. Prof. KH. M. Syadzeli Hasan adalah pejuang kemerdekaan dan guru besar di Banten. Selain menjadi pejuang, ia juga adalah aktivis pendidikan di Banten dan diangkat menjadi Guru Besar di Fakultas Syariah IAIN Sunan Gunung Djati Serang tahun 1979 (Sekarang di kenal dengan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten).

Baca juga: Hari Santri dan Sejarah Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari

Dalam kurun waktu sejarah, Prof. KH. M. Syadzeli Hasan hidup dilima periode sejarah Nasional Indonesia yaitu mulai dari masa Pemerintahan Kolonial Belanda, Pemerintahan Jepang, masa Revolusi Kemerdekaan, Orde Lama dan Orde Baru.

Selama hidupnya, Prof. KH. M. Syadzeli Hasan pernah menjadi anggota KNIP, wakil ketua Badan Eksekutif Keresidenan Banten, anggota Dewan Pemerintahan Daerah Sementara (DPDS) Jawa Barat, anggota Dewan Keamanan Pertahanan Daerah Banten, dan anggota Konstituante (Panitia Persiapan Konstitusi).

3. Aria Wangsakara

Raden Aria Wangsakara atau Raden Aria Wangsaraja lahir di Sumedang sekitar tahun 1024 H/1615 M dan wafat tanggal 2 Sya’ban tahun 1092H/1681 M di usia ke 68 tahun. Raden Aria Wangsakara merupakan salah satu tokoh pejuang wilayah Tangerang Banten. Raden Aria Wangsakara berhasil mendapatkan penghargaan dari Sultan Banten dengan mendapatkan gelar Kiai Mas Haji Wangsaraja.

Kemudian, pada tahun 1651 Raden Aria Wangsakara mendapatkan gelar ‘Imam’ dan “Sultan” dari Sultan Ageng Tirtayasa karena kecakapannya dalam ilmu agama serta pengabdiannya dalam mengajarkannya kepada masyarakat Banten. Raden Aria Wangsakara memiliki peran penting dalam perang besar kesultanan Banten melawan VOC yang terjadi pada bulan Mei 1658 April 1659.

Peran yang telah dilakukan oleh Raden Aria Wangsakara yaitu dengan membangkitkan semangat perjuangan kepada pasukan Banten melalui menyantuni anak yatim dan janda akibat perang.

4. K.H. Syam’un

K.H. Syam’un lahir di Beji Bojonegara tanggal 5 April 1894 dan wafat pada tanggal 28 Februari 1949. K.H. Syam’un adalah tokoh pejuang sekaligus ulama asal Banten. K.H. Syam’un memiliki peran dalam pendirian lembaga pendidikan yaitu dengan mendirikan pesantren Citangkil tahun 1916 yang kemudian bertransformasi menjadi sekolah modern bernama Madrasah al-Khairiyah tahun 1925.

Selain itu, K.H. Syam’un juga mendirikan Hollandsche Inlandsche School (HIS) tahun 1936 yang di dalamnya diajarkan bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan umum. Selain mendirikan lembaga pendidikan, K.H. Syam’un juga aktif di tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Baca juga: Kisah Duo Haji Pejuang dan Tameng Gaib di Pamatang

Bersama pasukannya, K.H. Syam’un pernah melakukan pemberontakan melawan Jepang. Selain itu, K.H. Syam’un juga pernah menjabat sebagai Bupati pertama Serang periode 1945-1949. Terakhir, K.H. Syam’un mendirikan BKR yang kemudian berganti nama menjadi TKR lalu terakhir berubah menjadi TNI Divisi Siliwangi. Pembentukan TNI menjadi awal mula gerakan kemiliteran di Banten, sehingga ia dijuluki ‘Pembangun Tentara Nasional di Banten’.

5. K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal Al-Janakawi

K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal Al-Janakawi lahir di Kampung Janaka tahun 1875 M. K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal Al-Janakawi adalah seorang pemuka agama dari keluarga lingkungan keluarga yang religius. Semasa kecil, K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal Al-Janakawi belajar ilmu agama kepada ayahnya bernama K.H. Mas Jamal, kemudian ia belajar kepada Kiai Sohib dan Kiai Ma’mun.

Ketika dewasa, K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal AI-Janakawi pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus berziarah ke makam orangtuanya dan memperdalam ilmu agama di Mekah selama 10 tahun. Setelah pulang dari Mekah, K.H. Mas Abdurrachman bin Jamal Al-Janakawi mendirikan Madrasah Mathla’ul Anwar bersama K.H.Mustaghfiri dan Ki Yasin pada tahun 1335 H/1916 Masehi.

Madrasah ini mengalami perkembangan pesat dan menjadi pusat ilmu pengetahuan di Pandeglang. K.H. Mas Abdurrachman menjadi tokoh penting di Pandeglang-Banten dalam pendidikan dan keilmuan. la wafat pada 27 Sya’ban 1363 H/16 Agustus 1944 M.

Baca juga: Komunitas Ontel Tangerang Napak Tilas Ketiga Makam Pahlawan

6. Syekh Yusuf al-Makassari

Syekh Yusuf Al-Makassari lahir pada tanggal 3 Juli tahun 1628 M atau 8 Syawal 1036 H di Istana keerajaan Gowa. Syeh Yusuf Al-Makassari merupakan seorang ulama, sufi serta khalifah tarekat pada zamannya. Syekh Yusuf juga memiliki peran besar terhadap kemenangan Kesultanan Banten yang dipimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa dalam melawan Belanda.

Syekh Yusuf Al-Makassari juga dikenal sebagai peletak dasar kehadiran komunitas muslim di Caylon dan Afrika Selatan. Bahkan la dinobatkan sebagai pejuang kemanusiaan oleh Nelson Mandella (Presiden Afrika Selatan) pada tahun 1994, dan sebagai pahlawan Nasional dan pejuang kemerdekaan oleh Soeharto (Presiden RI) bulan November 1995. Pada tanggal 23 Mei 1699 M Syekh Yusuf Al-Makassari wafat di Sandvliet Cape Town.

7. Sjafruddin Prawiranegara

Sjafruddin Prawiranegara lahir di Anyer, Banten pada tanggal 28 Februari 1911 dan wafat pada tanggal 15 Februari 1988 di Jakarta. Sjafruddin Prawiranegara adalah seorang tokoh politik yang menyelamatkan Indonesia dari keruntuhan akibat Agresi Militer Belanda II tahun 1948 dengan mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Sjafruddin Prawiranegara juga berperan dalam mengusulkan untuk mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai alat perjuangan. Selama masa kemerdekaan sampai akhir tahun 1957, Sjafruddin Prawiranegara menjabat sebagai menteri keuangan kemudian menjadi gubernur Bank Indonesia (BI). Sjafruddin Prawiranegara memiliki pengaruh cukup signifikan terhadap penerapan kebijakan ekonomi Indonesia. (Ahmad/Red)

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru