Stopplaast Cikaduen, Stasiun Kereta Api Mini Sahabat Penziarah

Stopplaast Cikaduen, Stasiun Kereta Api Mini Sahabat Penziarah

Stopplaast Cikaduen tampak dari depan (Foto: Ishana)

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Kegiatan mengunjungi makam para wali rupanya bukan hal baru di Banten. Hal ini sudah dimulai berabad abad lalu. Hal ini bahkan diketahui oleh Belanda.

Oleh karena itu, saat jawatan kereta api Belanda (Staatsspoorwegen) membangun rel kereta api jalur Rangkasbitung–Labuan mereka khusus membangun stopplaast Tjikadoeen (setelah kemerdekaan namanya berubah menjadi Cikaduwen) agar para penziarah bisa mengakses makam wali Syekh Manshurudin dengan lebih mudah.

Dikutip dari buku Sejarah Jalur Kereta Api Rangkasbitung–Labuan Heritage PT KAI Tahun 2014, jalur kereta api Rangkasbitung–Labuan mulai beroperasi 18 Juni 1906. Stopplaast adalah sejenis stasiun kecil dengan pelayanan sederhana yaitu hanya naik dan turun penumpang dan barang secara terbatas.

Tak ada pengisian air, atau bahan bakar dan tak ada rel sepur pembelok. Stasiun jenis ini dibangun karena Belanda melihat potensi penumpang yang besar di daerah daerah yang jauh dari stasiun atau halte.

Maka, bisa dikatakan, pembangunan stopplaast Tjikadoeen oleh Belanda adalah bukti kegiatan wisata religi di Cikadueun sudah berlangsung ratusan tahun dan diikuti oleh banyak orang. Oleh karena itu, letak stopplaast Cikadueun pun dibangun tak jauh dari lokasi penziarahan.

Stopplaast Cikaduen tampak dari belakang (Foto: Ishana)

Kini, sisa bangunan stopplaast itu sudah berubah. Diapit oleh dua bangunan baru, kekhasan bangunan stopplaast kurang bisa dinikmati. Tak tertera lagi tulisan Tjikadoeen sebagai identitas stopplaast di dindingnya karena tertutup oleh dinding bangunan baru tersebut.

Namun, kita masih bisa melihat sisa bangunan kayu khas Belanda dengan ukuran kurang lebih 5×4 meter. Bagian dalam stopplaast tak bisa dilihat karena dikunci. Tapi dari jendela kaca terlihat ada satu ruangan kecil yang merupakan ruang penjualan tiket.

Kemudian, sisa ruangan lainnya dipakai sebagai ruang tunggu dengan satu bangku kayu yang menempel di dinding. Di bagian depan stopplaast kita masih bisa melihat sisa rel yang kini sebagiannya tertimbun aspal Jalan Raya Labuan–Pandeglang.

Sisa rel lainnya pun sudah tak terlihat karena dijadikan masjid serta rumah penduduk. Tapi bergeser sekira 100 meter dari lokasi, kita bisa melihat sisa jembatan kereta api Cikadueun masih berdiri tegak dan di bagian bawahnya dijadikan rumah penduduk.

Oh ya, sebagai gambaran, dinding bangunan stoplaast ini terbuat dari papan kayu. Atapnya berbentuk pelana dan dibuat dari seng. Stopplaast ini dibangun di kilometer 33,466 dengan ketinggian 124 meter diatas permukaan laut (mdpl).

Stopplaast ini adalah salah satu dari 10 stopplaast yang dibangun di sepanjang jalur Rangkasbitung–Labuan. Stopplaast lainnya di jalur tersebut adalah Stopplaast Roemboet (Rumbut), Cibuah, Pasir Tangkil, Tjibiuk (Cibiuk), Cimenyan, Sekong, Kananga, Babakan Kidoel (Babakan Kidul), dan Kalumpang.

Sisa rel di depan Stopplaast. (Foto: Ishana)

Usai berziarah di Cikadueun, penziarah biasanya membeli tiket lagi untuk menuju halte (stasiun tingkat menengah) Laboean (Labuan) yang dekat lokasinya dengan penziarahan Tjaringin (Caringin). Jadi bisa diasumsikan, dua stasiun mini tersebut adalah stasiun kereta api sahabat para penziarah.

Menurut keterangan, Amah (75 tahun) warga setempat, dulu saat ia kecil ia mengingat di stopplaast itu kereta api berhenti sebanyak 2 kali. Pagi dan sore hari. Namun ia lupa jam tepatnya. Ia ingat hal itu karena anak anak di Cikadueun paling gembira mendengar peluit kereta api yang hendak berhenti di stopplaast.

Apalagi, saat itu lokomotif kereta api masih mengepulkan asap tebal akibat pembakaran kayu untuk memanaskan ketel uap. Belakangan asap itu berubah jadi hitam karena bahan bakarnya berubah menjadi batu bara. (Ishana)

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru