Stigma Virus Corona

Akademisi UNMA Banten, Eko Supriatno, M.Si.MPd

Virus Corona itu telah menjadi ancaman global. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan virus corona sebagai ancaman global pada akhir Januari 2020. Dari episentrumnya di Tiongkok, telah meruyak ke kawasan Asia Barat, Timur Tengah, hingga ke Eropa.

Tepat sekali apa yang dikatakan pimpinan WHO, dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, bahwa yang lebih berbahaya dari virus korona ialah stigma yang dilabelkan, ketakutan yang berlebihan, serta hoaks yang keji.

Ketika hoaks atau kabar bohong menyeruak ke publik tentang virus corona dan pejabat publik memproduksi kebijakan yang salah arah untuk antisipasi korona, para pekerja migran Indonesia, baik sendiri maupun bersama organisasi, menjadi saluran informasi yang menyaring berita bohong.

Selepas Presiden Joko Widodo menggelar konferensi pers dan menyatakan bahwa ada 2 warga negara Indonesia terduga positif corona, muncul kehebohan luar biasa di masyarakat. Kepanikan massal muncul dengan aksi borong masker, pencuci steril, bahkan bahan makanan.

Kehebohan juga makin sengit ditingkah ulah media massa yang tanpa mengindahkan prinsip-prinsip kode etik jurnalistik dan protokol perlindungan data pribadi, mengumbar secara memerinci identitas dan lokasi terduga. Beberapa kepala daerah bahkan juga mengamplifikasi pengumbaran data pribadi ini.

Harus diakui, dalam upaya penanganan dampak virus corona, pemerintah Indonesia lebih banyak terpaku pada upaya pemulihan ekonomi yang berbasis pada penerimaan negara dari investasi asing dan pariwisata. Namun, abai pada jutaan pekerja migran Indonesia yang paling rentan terdampak virus korona karena mereka berada di kawasan terdekat episentrum wabah

Melihat penanganan di negara lain, respons cepat pemerintah menghadapi situasi krisis virus corona menjadi salah satu kunci menekan penyebaran dan peningkatan angka kasus.

Analisis Corona, penulis menemukan 3 (Tiga) Masalah Penting :

Pertama, saya melihat, respons yang dilakukan pemerintah terkait penyebaran virus corona sudah baik. Pemerintah tidak menunjukkan rasa panik dalam menangani kasus positif pertama di Indonesia. Meski demikian, soal transparansi atas kasus ini masih menimbulkan banyak pertanyaan di benak publik. Pemerintah melalui Kemenkes beberapa kali memberikan penjelasan kepada publik. Tapi yang membuat publik bertanya-tanya adalah soal kredibilitas ketika Menkes mengatakan bahwa kita berserah saja kepada Yang Maha Kuasa.

Kedua, ancaman virus informasi hoaks lebih berbahaya dari pada virus corona (Covid-19) sehingga membuat masyarakat menjadi tidak rasional dalam bersikap. Jadi ancaman terbesar adalah virus informasi hoaks bukan virus corona. ‘Panic buying’ yang dilakukan masyarakat setelah virus corona positif pertama di Indonesia diumumkan sebagai salah satu dampak dari informasi yang tidak komprehensif yang diterima oleh masyarakat.

Selama ini, informasi virus corona yang sudah mewabah di seluruh dunia dan mereka yang terjangkit akan meninggal dunia, sudah sangat viral. Masyarakat, belum menerima informasi bagaimana mencegah dan mengatasi penyakit baru tersebut. Ketidaktahuan tersebut menimbulkan ketakutan. Ketakutan mendorong insting kita untuk bertahan, bertahan itu ada dua, ‘fight atau flight’, pergi atau bertarung (bertahan).

Tapi hal tersebut menurut penulis jangan dibiarkan berlarut-larut, perlu ada kepastian informasi, sehingga ketika masyarakat mendapatkan informasi yang lebih jelas dengan cepat membantu masyarakat untuk memilih apa yang harus dilakukan berikutnya, pergi atau bertahan. konteks bernegara memang perlu segera ada kepastian informasi.

Menurut penulis, jika ‘panic buying’ masih berlanjut artinya ada yang tidak berperan. Negara harus segera mengantisipasi dengan menggerakan seluruh elemen negara untuk memiliki narasi yang komprehensif dan masif. Jadi narasi yang utuh menggunakan seluruh aparatur negara menyampaikan informasi tersebar dengan benar. Kondisi tersebut membuat informasi yang tidak benar semakin berlipat.

Hal ini dikarenakan kecenderungan manusia adalah menjadi pahlawan bagi orang lain. perlu ada SOP sosialisasi informasi satu pintu tetapi betul-betul mewakili pemerintah dan menjadi rujukan masyarakat mendapatkan informasi.

Ketiga, tentunya publik berharap agar pemerintah memperketat keimigrasian dengan pengecekan yang lebih sistematis. pengecekan di beberapa pintu masuk saat ini hanya berdasarkan pada self assessment.

Dengan dinyatakan sebagai “virus berbahaya”, upaya penanggulangan di negara terjangkit akan ditingkatkan maksimal. Dunia internasional akan turun tangan membantu. Negara-negara di seluruh dunia juga akan meningkatkan kemampuan pencegahan, deteksi, surveillance, dan respons dalam sistem kesehatan masing-masing. Negara juga perlu melakukan persiapan untuk meningkatkan kemampuan deteksi, investigasi, dan penanganan Corona. Penyuluhan kepada masyarakat harus dilakukan dengan benar dan luas.

Salah satu hambatan paling besar dalam pencegahan dan penanggulangan Corona di Indonesia adalah masih tingginya stigma terhadap orang dengan Corona.

Stigma berasal dari pikiran seorang individu atau masyarakat yang memercayai bahwa Corona susah disembuhkan. Stigma terhadap Corona memiliki dampak yang besar bagi program pencegahan dan penanggulangan Corona.

Asumsi penulis, masih tingginya kematian ini kemungkinan besar disebabkan karena Corona tidak memiliki kesempatan mendapatkan perawatan yang optimal akibat masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dunia.

Dengan pengetahuan dan pendidikan yang rendah, stigma dan diskriminasi Corona masih banyak terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya stigma pada Corona. Selain pengetahuan yang kurang, pengalaman atau sikap negatif terhadap penularan Corona dianggap sebagai faktor yang dapat mempengaruhi munculnya stigma dan diskriminasi. Pendapat tentang penyakit Corona merupakan penyakit kutukan akibat perilaku amoral juga sangat memengaruhi orang bersikap dan berperilaku terhadap Corona.

Stigma terhadap Corona adalah suatu sifat yang menghubungkan seseorang yang terinfeksi Corona dengan nilai-nilai negatif yang diberikan oleh mereka (masyarakat). Stigma membuat Corona diperlakukan secara berbeda dengan orang lain.

Stigma muncul karena tidak tahunya masyarakat tentang informasi Corona yang benar dan lengkap, khususnya dalam mekanisme penularan Corona, kelompok orang berisiko tertular Corona dan cara pencegahannya.

Stigma merupakan penghalang terbesar dalam pencegahan penularan dan pengobatan Corona. Selain itu, stigma terhadap Corona juga menyebabkan orang yang memiliki gejala atau diduga menderita Corona Dalam hidup bermasyarakat, stigma juga menghalangi Corona untuk melakukan aktivitas sosial.

Perlu pemberian informasi Corona yang lengkap kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman yang dapat mengubah persepsi individu dan masyarakat.

Selain itu, juga diperlukan upaya penurunan stigma terhadap Corona melalui penyuluhan oleh tenaga kesehatan, sebagai contoh untuk meluruskan mitos dan penularan Corona agar tidak terjadi kekhawatiran dan ketakutan masyarakat terhadap Corona.

Penulis : Eko Supriatno, M.Si, M.Pd
Akademisi UNMA Banten

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru