Corona dan Pesan Kenabian

Corona dan Pesan Kenabian

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit
kecuali Dia juga menurunkan penawarnya,” (HR Bukhari)

“Penyakit yang paling berbahaya adalah
penyakit yang membuat kita percaya kalau kita baik-baik saja,” (Lauren Oliver, Delirium)

Corona telah menjadi tragedi kelam bagi masyarakat dunia. Corona telah merusak mimpi indah, merobohkan tiang, dinding, dan atap serta meretakkan jalan “kemanusiaan”.

Sama seperti negara lain, Indonesia sedang menghadapi ancaman sebaran coronavirus yang bisa menyebabkan kematian. Apalagi sejumlah Rumah Sakit di beberapa daerah mengumumkan adanya suspect yang sedang dirawat di ruang isolasi.

Sudah selayaknya kita menengok kembali khazanah pesan kenabian yang sangat kaya hikmah. Salah satunya, bagaimana kita menjadikan bangsa ini menjadi tangguh bencana.

Pesan kenabian tentang kemarahan Tuhan dan sebagainya pada hakikatnya ingin mengajak setiap manusia untuk mawas diri dan memeriksa diri sendiri. Yang menjadi persoalan, kebanyakan manusia lebih memilih untuk menghakimi, saling tuding kanan-kiri.

Pesan kenabian mengatakan bahwa semua bencana itu dipercaya akibat dari kelakuan manusia yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan.

Dari perspektif kearifan lokal, banyak sekali cerita-cerita tentang “bencana” yang semuanya diakibatkan oleh tingkah polah manusia. Cerita-cerita yang kita dengar sejak kecil lekat sekali dengan kisah kemarahan Tuhan dan alam semesta terhadap manusia.

Pandangan bahwa bencana penyakit adalah bentuk hukuman, kemarahan penguasa alam pada manusia telah tertanam dalam ingatan dan benak, jauh sebelum masing-masing kita masuk sekolah, belajar ilmu pengetahuan, membaca buku-buku ilmiah.

Dalam hal tersebut, kita teringat mukjizat Nabi Isa yang mampu menyembuhkan penyakit, bahkan menghidupkan orang mati. Dalam bahasa sekarang, ini kemampuan treatment pasien yang puncaknya mengembalikan denyut jantung yang berhenti dengan teknik cardio-pulmonal rescucitation (CPR).

Wabah penyakit sebelumnya sudah pernah terjadi di zaman Rasulullah. Wabah yang terjadi pada zaman Rasulullah adalah penyakit kusta, tak hanya menular namun juga menyebabkan kematian. Proses penyebarannya pun sangat cepat kala itu.

Rasulullah pernah mengajarkan cara menghadapi wabah penyakit dalam hadis yang diriwayatkan Abdurrahman bin Auf.

“Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah kamu keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya” (HR. Muslim)

Hadist tersebut mirip metode karantina yang kini dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular.

Peringatan kehati-hatian pada penyakit lepra juga dikenal luas pada masa hidup Nabi Muhammad SAW. Rasulullah menasihati masyarakat agar menghindari penyakit lepra. Dari hadis Abu Hurairah, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda.

“Jauhilah orang yang terkena lepra, seperti kamu menjauhi singa.”

Penyakit sejatinya tidak pernah diharapkan muncul hingga mengkibatkan kekhawatiran. Namun, selalu ada alasan dan hikmah yang terkandung dari setiap peristiwa yang terjadi.

Mukjizat Sosial

Mukjizat (dalam pengertian KBBI, yakni keajaiban yang sukar dijangkau akal manusia) menjadi fenomena hampir di tiap agama.

Mukjizat sosial luar biasa yang patut diambil pelajaran untuk menata bangsa ini untuk menjadi tangguh bencana adalah bagaimana kehebatan Nabi Muhammad SAW dalam melakukan kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi stiap apapun bencana. Akhirnya, Beliau mampu menata masyarakat jahiliyah dan membangunnya menjadi masyarakat yang berketuhanan dan berkeadaban.

Eko Supriatno, M.Si, M.Pd.
Pengurus Wilayah Ansor Banten
Departemen Riset dan Kebijakan ICMI Banten

Ada 3 (Tiga) hal yang harus dilakukan sebagai catatan kritis tentang Corona dan Pesan Kenabian dalam konteks Mukjizat Sosial:

Pertama, Taubat Kembali kepada Tuhan.

Bencana Corona sejatinya adalah peringatan dari Tuhan kepada seluruh umatnya. Bencana Corona bukan sekadar fenomena penyakit yang dianggap biasa. Untuk itu, pengobatan Corona harus secara holistik tak hanya melibatkan proses-proses medis dan psikologis, tapi juga menggunakan pendekatan spiritualitas secara terintegrasi. Bukan hal yang aneh dalam dunia medis saat ini penderita dimohon untuk berdo’a supaya diberi kesembuhan.

Secara etimologis kata taubah dalam bahasa arab yaitu taaba-yatuubu-taubatan, yang berarti ar-ruju’ (kembali). Tobat dapat diartikan dengan kembalinya seseorang hamba kepada Allah setelah menjauh dari-Nya.

Bagi penulis makna taubat adalah wahana untuk instropeksi diri. Dalam Islam misalnya, taubat merupakan jalan peleburan dosa, dan upaya mengembalikan diri menuju jalan yang benar. Taubat dianggap sah dan nashuha (sungguh-sungguh) ketika memenuhi setidaknya prasyarat bagaimana sepenuh hati menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan. Seseorang yang bertaubat, harus mampu menyesali diri terhadap dosa yang telah dilakukannya. Penyesalan diri dalam hal ini adalah wujud pengakuan diri akan salah dan khilaf yang pernah dilakukan.

Kedua, Dzikir sosial.

Merupakan sebuah cara mengingat Tuhan dan menjadikan keberadaannya ada dalam hati kita dalam setiap menjalani kehidupan di dunia. Dzikir tidak hanya sebatas ritual keagamaan akan tetapi harus dapat dirasakan sebagai solusi keummatan. Dzikir tidak harus berjamaah dan mengeraskan suara. Bahkan Allah memerintahkan untuk berdzikir dalam hati dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara diwaktu pagi dan petang (QS.7:205). Merasakan dampak dari ritual dzikir, maka harus di internalisasi dalam kehidupan individu agar menjadi pondasi dan corak spiritual yang kuat. Setelah itu, ritual dzikir (kesalehan spiritual) harus berdampak pada kesalehan sosial.

Untuk itu, marilah kita ‘upgrade’ dzikir kita menjadi dzikir sosial, sehingga mampu berkontribusi terhadap kemaslahatan umat istiqomah dalam menjalankan dan mendakwahkan dzikir sosial tersebut.

Ketiga, Solidaritas dan Empati

Ada satu hikmah di saat potensi bencana Corona begitu kuat menghantui dunia. Potensi itu adalah budaya kebersamaan yang erat. Banyak warga saling menolong meski mereka juga takut akan Corona.

Budaya positif seperti itu pun terus terjaga, bahkan harus ditularkan. Solidaritas kemanusiaan harus didistribusikan jangan ada kata mengenal lelah.

Tanpa solidaritas, manusia kehilangan kemanusiaanya. Masyarakat pun kehilangan fungsi utamanya, yakni melindungi dan mengembangkan semua manusia yang ada di dalamnya. Tanpa solidaritas, sebuah masyarakat menjadi lemah.

Dasar dari solidaritas adalah empati. Dalam arti ini, empati adalah kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. Bisa juga dibilang, bahwa empati adalah kemampuan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan empati, manusia bisa terdorong untuk membantu orang ataupun mahluk lain. Dorongan ini muncul dari sikap welas asih, dan bukan dari pamrih.

Solidaritas yang berakar pada empati memiliki banyak dampak bagi kehidupan manusia.

Siaga Tanggap Corona

Meski bencana Corona telah terjadi, kesiapsiagaan masyarakat untuk menghadapi bencana Corona masih harus terus dilakukan.

Dalam manajemen bencana, hal ini disebut sebagai buffering capacity. Artinya, meskipun terjadi kerusakan karena bencana, fungsi kehidupan harus terus berjalan.

Pada titik kritis sebuah insiden atau bencana, nyawa terancam, dibutuhkan kemampuan penyelamatan jiwa (life saving).

Di negara maju, masyarakat dilatih basic life support dan first aid atau pertolongan pertama. Ini menjadi kebijakan nasional. Dengan ini, masyarakat mampu memberi pertolongan dengan benar pada setiap kejadian darurat.

Kebijakan ini sangat penting dalam bencana. Dengan kemampuan menolong, masyarakat tidak lagi terlalu mengandalkan bantuan luar, bisa menolong secara mandiri pada batas tertentu. Ini adalah kapasitas penanganan bencana yang disebut life saving dan local response capacity.

Semua hal tersebut harus dilakukan secara masif dan sistemis agar semua komponen masyarakat menjadi tangguh Corona. Tentu, semua itu harus dilakukan bersama penataan dan pengelolaan masyarakat, social management.

Untuk mengurangi risiko tersebut, ada beberapa langkah-langkah masyarakat siaga tanggap Corona yang harus ditempuh:

Pertama, memaksimalkan sistem peringatan dini yang terdiri atas empat elemen kunci: pengetahuan tentang risiko, pemantauan, analisis dan deteksi ancaman bahaya berupa komunikasi atau penyebaran pesan siaga serta peringatan dan kemampuan masyarakat setempat untuk merespons peringatan yang diterima.

Kedua, peningkatan kapasitas dan kesadaran publik. Kapasitas individu dan masyarakat untuk bertahan memerlukan kesadaran terus menerus sehingga kapasitas bertahan berperan dalam pengurangan risiko bencana.

Selain itu tingkat pengetahuan masyarakat tentang risiko dan faktor bencana merupakan salah satu faktor utama dalam pengurangan risiko bencana yang efektif. Model ini dapat dikembangkan melalui media dan saluran pendidikan serta pembentukan pusat-pusat informasi.

Semoga, kita diberi Tuhan kemampuan untuk mengambil hikmah dari tragedi kelam bencana Corona.

Penulis :

Eko Supriatno, M.Si, M.Pd.
Pengurus Wilayah Ansor Banten
Departemen Riset dan Kebijakan ICMI Banten

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru