Indonesia dan Sampah yang Merusak Ekosistem

Ilustrasi Pencemaran Sampah Plastik

BINGAR.ID – Sampah menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup di dunia. Daya hancur plastik terhadap lingkungan sangat besar, sebab ia sangat sulit terurai. Keberadaanya yang tidak bisa di pisahkan dari kehidupan manusia, membuat sampah plastik seakan abadi.

Indonesia menjadi negara penyumbang sampah terbesar setelah Tiongkok. Sampah yang dihasilkan masyarakat di Indonesia setiap harinya sekitar 175 ribu ton sampah.

Bila ditotalkan dalam setahun sampah yang di produksi manusia mencapai 65 juta ton. Sebagian besar sampah ini berakhir di tempat penampungan akhir tanpa bisa diolah dan dimanfaatkan lebih jauh.

Data dari laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia memproduksi 65 juta ton sampah pada 2016, naik 1 juta ton dari tahun sebelumnya.

Dari jumlah 65 juta ton, sekitar 15 juta ton mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Lalu, 7 persen sampah didaur ulang dan 69 persen sampah berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di Indonesia ada lebih dari 400 TPA tapi baru 10 persen yang beroperasi secara maksimal. Hal itu karena ada sejumlah masalah dalam hal pengelolaan.

KLHK sendiri meminta agar perusahaan ritel mampu mengolah sampah sendiri sebelum membuang ke tempat pembuangan akhir atau TPA. Mengingat TPA yang ada di Indonesia mengalami overload dan berpotensi tak tertampung lagi.

Ujang Solihin Sidiq, Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan, Direktorat Pengelolaan Sampah, KLHK mengatakan,
ritel modern perlu adaptif dan mampu mengolah sampahnya sendiri sehingga beban TPA akan berkurang.

“Bulan Desember lalu kami terbitkan Permen 75 tahun 2019 itu peta jalan pengurangan sampah, salah satunya diatur itu hotel, pusat belanja, toko modern dan pasar tradisional,” kata Sidiq bulan lalu.

Merusak Ekosistem

Sampah plastik di daratan maupun lautan kini semakin menjadi sorotan dunia internasional karena dampak negatifnya bagi lingkungan.

Di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), Senin (19/11/2018) ditemukan seekor paus jenis Sperm wale yang terdampar. Dalam perut paus sepanjang 9,6 meter itu ditemukan sampah plastik yang jumlah cukup besar yakni sekitar 5,9 kilogram.

Selain di Wakatobi, sampah plastik juga membunuh tiga penyu di Pulau Pari, Kabupaten Kepulauan Seribu. Penyu jenis sisik tersebut mati akibat sampah plastik dan minyak mentah.

Sampah Jadi BBM

Dalam upaya mengurangi penumpukan sampah plastik di Kota Serang, Banten Kelompok kerja bank sampah, mengolah limbah plastik menjadi BBM .

Proses pembuatannya, sampah plastik dibakar dengan 2 alat tangki yang sudah di desain selama kurang dari 2 jam. Hasil dari pengelolaan ini terbagi menjadi tiga macam jenis BBM yaitu 50 persen solar, 25 persen minyak tanah dan sisanya bensin.

Ketua Pokja bank sampah genpilar Lukman Hakim mengatakan, Sampah plastik 100 kilo dapat menghasilkan 10 liter BBM. Dan penemuannya ini merupakan upaya masyarakat untuk mengurangi limbah plastik.

“Sebagai anak muda melihat sampah di kampung kita itu resah, makanya kita setuju bersama teman-teman pengurus bank sampah. Kita baca-baca dan lihat YouTube cara mengelola sampah plastik menjadi BBM,” katanya, kepada Merdeka, (Fauzan/Red).

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru