Indeks Kesalehan Sosial Masyarakat Indonesia Cukup Tinggi

Indeks Kesalehan Sosial Masyarakat Indonesia Cukup Tinggi

Ilustrasi keberagaman agama di Indonesia. (NU Online)

JAKARTA, BINGAR.ID – Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Balitbang-Diklat Kemenag merilis hasil survei tahun 2020 tentang Indeks Kesalehan Sosial (IKS) masyarakat Indonesia.

“Hasil survei mencapai nilai 82,53. Angka IKS ini masuk kategori cukup tinggi,” kata Ketua Tim Peneliti Raudlatul Ulum dalam keterangan resminya yang dikutip Bingar, Rabu (30/6/2021).

Baca juga: Survei BNPT: Potensi Radikalisme di Indonesia Urutan 37 Dunia

Raudlatul Ulum menjelaskan, survei IKS 2020 berangkat dari penglihatan bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama terkait hubungan antara percaya kepada Tuhan dan memiliki nilai-nilai yang baik.

Kebijakan mengenai kesalehan sosial, ungkap pria yang akrab disapa Ulum ini, dirasa penting guna melihat dinamika ruang publik yang berhubungan dengan kepedulian sosial, relasi antar manusia, pelestarian lingkungan, etika dan budi pekerti, juga kepatuhan terhadap negara dan pemerintah.

Baca juga: Survei: Masyarakat Ingin PSBB Diakhiri

“Survei ini bertujuan untuk mengetahui hubungan masyarakat Indonesia dengan pengamalan pada tingkat sosial dengan mengambil beberapa responden,” katanya.

Responden terdiri dari perwakilan enam agama di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Temuan survei, tingkat kepedulian sosial memperoleh skor 75,35; relasi antarmanusia, 87,6; pelestarian lingkungan, 76,61; dan patuh pada peraturan pemerintah dengan skor 85,01.

“Sementara, etika dan budi pekerti yang mendapat skor paling tinggi, yaitu 88,1,” papar Ulum.

Baca juga: Evaluasi KemenPAN RB, Reformasi Birokrasi Pemkab Pandeglang Sebatas Formalitas

Temuan lainnya, lanjut Ulum, IKS dipengaruhi beberapa faktor utama, yakni habituasi atau pembiasaan (skor paling tinggi 84,43),  kesalehan ritual (79,65), pengetahuan (77,85), dan terapan program Kemenag (51,78).

“Sebagai faktor tertinggi, secara umum habituasi atau pembiasaan ini meliputi pemberian penghargaan atas prestasi (78,71), belajar bersama (81,18), mengelola sampah organik dan non organik (53,76), sanksi atas pelanggaran aturan (78,71) dan kegiatan piknik keluarga (77,41),” jelas Ulum. (Sajid/Red)

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru