Festival Aren Musang 2026 Luncurkan 15 Produk Turunan Aren

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Festival Aren Musang 2026 bertajuk “Rasi Nira” sukses digelar pada 26–27 September 2026 di Cibaliung, Kabupaten Pandeglang. Mengangkat aren sebagai titik temu antara kebudayaan, seni, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan, festival ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus merawat pengetahuan yang hidup di Cibaliung.

Daya Desa Cibaliung, Rizal Mahfud mengatakan, keterlibatan masyarakat dalam Rasi Nira telah dibangun sejak tahap persiapan melalui berbagai kegiatan yang mendorong warga menjadi pelaku, bukan sekadar penonton, dalam pengembangan festival.

BACA JUGA : Gerak Cepat Damkar Kodim 0601/Pandeglang Bersama Masyarakat Padamkan Kebakaran di Cibaliung

“Festival ini melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari anak-anak, pemuda, orang tua, pelaku UMKM, pegiat budaya, komunitas, hingga masyarakat dari kampung sekitar,” katanya, Kamis, 1 Oktober 2026.

Rangkaian kegiatan Rasi Nira mencakup pertunjukan gondang lesung, tari, musik, wirid sada kawung, teater boneka, pop Sunda, kitimpring, dan ceramah Sunda. Selain itu digelar pula workshop kuliner, jenama, strategi pemasaran, kaligrafi, dan ecoprint, serta kegiatan penanaman aren dan kawao. Kegiatan anak dan Cerdas Cermat Kebudayaan tingkat SLTA turut memperkenalkan pengetahuan mengenai aren, tradisi huma, kesenian, pengolahan, hingga pemasaran produk lokal kepada generasi muda.

BACA JUGA : Pria Asal Cibaliung Jadi Pengedar Obat Terlarang

Salah satu kegiatan utama dalam festival tahun ini adalah peluncuran 15 produk turunan aren. Rizal menjelaskan, peluncuran tersebut menjadi bagian penting karena Rasi Nira tahun ini memberikan perhatian lebih pada pengembangan ekonomi masyarakat.

Sebelum festival berlangsung, Daya Desa bersama Daya Warga telah melakukan eksplorasi terhadap produk olahan aren. Proses itu kemudian dikembangkan melalui serangkaian kegiatan persiapan, mulai dari pengolahan, pengemasan, hingga upaya membangun jejaring pemasaran. Dari proses tersebut, sebelumnya telah ditemukan sejumlah produk seperti Choconira, Energi Gel, Bandrek, Gula Cair, dan Gula Semut.

BACA JUGA : Sisihkan 50 Kandidat, Abah Kalimi Dinobatkan Sebagai Maestro Seni Tradisi Calung Renteng Cibaliung

“Peluncuran 15 produk ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan festival. Produk yang dihasilkan masyarakat kami arahkan untuk bisa masuk ke jejaring yang lebih luas, sehingga punya kesempatan untuk dikenal dan dipasarkan di luar wilayah Cibaliung,” ujar Rizal.

Ia menambahkan, hal ini sejalan dengan gagasan Festival Aren Musang yang sejak awal diarahkan untuk membangun jaringan dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha dan kedai, sebagai bagian dari pengembangan pasar.

Rangkaian kegiatan Rasi Nira tidak hanya berbicara mengenai produk dan kebudayaan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan. Penanaman kawao dan kegiatan yang berkaitan dengan kelestarian pohon aren menjadi bagian dari pesan yang dibawa dalam festival ini.

Dia menyebut, dalam proses pendampingan masyarakat, muncul pula gagasan untuk mengembangkan ruang belajar yang mempertemukan pengetahuan mengenai penyadapan nira, pembuatan gula aren, kawao, alat tradisional, lagu pertanian, hingga tradisi masyarakat agraris.

Rizal menegaskan, Rasi Nira memperlihatkan bahwa Festival Aren Musang tidak hanya berlangsung di atas panggung. Masyarakat juga terlibat dalam berbagai kegiatan pendukung, termasuk membuat egrang, menata lingkungan kampung, dan mempersiapkan berbagai kebutuhan festival.

“Banyak kegiatan justru tumbuh dari keterlibatan masyarakat dalam proses persiapan. Orang tua, pemuda, perempuan, dan anak-anak mengambil bagian sesuai dengan perannya masing-masing,” ujarnya.

Festival Aren Musang 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara soal bagaimana aren diolah menjadi sebuah produk, tetapi juga bagaimana pengetahuan, kebudayaan, lingkungan, dan ekonomi masyarakat dapat berjalan bersama.

“Itu bagian dari upaya kami agar aren tetap hidup di tengah masyarakat, tidak hanya sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan dan kebudayaan Cibaliung,” ucap Rizal.

Plt Asisten Daerah (Asda) II Setda Pandeglang, Hasan Birsi menyampaikan tiga poin penting dalam membangun ekosistem yang lestari, yakni komitmen untuk menanam pohon aren, komitmen untuk tidak menggunakan jerat musang, dan komitmen terhadap pelestarian budaya. Ketiga poin tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai aren tidak dapat dipisahkan dari lingkungan dan kebudayaan masyarakat.

“Pohon aren bukan hanya kami lihat sebagai sumber bahan baku ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan pengetahuan lokal dan kehidupan masyarakat. Begitu pula musang, yang menjadi bagian dari identitas Festival Aren Musang,” katanya. (Ahmad)

Berita Terkait

Berita Terbaru