Tiga Penyebab Pandeglang Selalu Alami Kekeringan

Seorang warga Pandeglang sedang mengangkut bantuan air bersih (Foto: Dok. BPBD Pandeglang)

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Kabupaten Pandeglang akan segera memasuki musim kemarau. Hal itu terlihat dari dua kecamatan di selatan Pandeglang, Cikeusik dan Cibitung yang mulai mengalami kekeringan. Walaupun di wilayah utara, masih kerap dibasuh hujan.

Diperkirakan, puncak musim kemarau di Pandeglang akan terjadi pada bulan November. Musim ini biasanya akan diikuti pula oleh bencana kekeringan yang hampir terjadi setiap tahun. Tahun lalu saja, kekeringan meluas hingga 12 kecamatan.

Baca juga: BMKG: Sebagai Wilayah Indonesia Selatan Segera Masuki Musim Kemarau

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pandeglang, Surya Darmawan membeberkan, ada tiga penyebab yang membuat kekeringan seakan menjadi rutinitas di Pandeglang.

“Pertama ya iklim kekeringan yang panjang. Kedua memang muka air tanahnya itu menurun, sehingga masyarakat harus lebih dalam menggali sumur-sumur kembali . Bagi yang tidak mampu ya mereka akan kekeringan,” ujarnya kepada Bingar, Kamis (17/9/2020).

Selain itu, berubahnya budaya bercocok tanam dikalangan masyarakat juga ikut memengaruhi kekeringan. Area hutan yang sejatinya bisa menjadi kawasan resapan air, dialihkan menjadi ladang.

“Sehingga resapan ke air tanahnya itu berkurang. Juga perubahan vegetasi dari hutan ke sawit yang berdasarkan kebutuhan airnya sawit lebih tinggi,” sambungnya.

Baca juga: Kabupaten Serang Kerap Dilanda Tiga Bencana Alam

Menghadapi puncak musim kemarau dan kekeringan nanti, saat ini BPBD sedang melakukan pendataan tingkat kekeringan dibeberapa daerah.

“Persiapan sudah siap, kendaraan juga siap ada 4 unit yang disiapkan. Kami akan menghubungi relawan yang ada di wilayah selatan untuk melakukan pendataan wialyah mana saja yang berpotensi kekeringan,” pungkasnya. (Syamsul/Red)

Berita Terkait