Pemda Harus Tingkatkan Kesiapsiagaan dan Mitigasi Bencana pada Warga

Mitigasi Bencana

BMKG mengajak Pemda untuk bersama menggencarkan sosialisasi/literasi/edukasi kesiapan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana dengan cara membangun sikap budaya selamat. (ANTARA/Destyan Sujarwoko).

JAKARTA, BINGAR.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta Pemerintah Daerah (Pemda) meningkatkan kesiapsiagaan bencana dengan mempersiapkan rambu-rambu, jalur dan tempat evakuasi yang layak dan memadai.

BMKG mengajak Pemda untuk bersama menggencarkan sosialisasi/literasi/edukasi kesiapan dan ketangguhan masyarakat terhadap bencana dengan cara membangun sikap budaya selamat.

Langkah kesiapsiagaan ini perlu dibarengi dengan gerakan penghijauan tanaman yang tepat di tempat kritis/rawan bencana, seperti di puncak dan lereng gunung rawan longsor, di sepanjang bantaran sungai rawan banjir/banjir bandang, ataupun di sepanjang pantai rawan tsunami.

Baca juga: Bibit Siklon Tropis Muncul Lagi, BMKG: Jangan Anggap Sepele

Imbauan tersebut ditujukan bagi daerah yang berstatus rawan gempa dan tsunami seperti Mentawai, Bengkulu, Sumatera Barat, Lampung, Selat Sunda-Banten, Selatan Jawa, Selatan Bali, Sulawesi Utara-Laut Maluku, Sorong dan Lembang.

“Masyarakat juga harus ditingkatkan pengetahuannya mengenai bencana dan bagaimana melakukan evakuasi mandiri saat bencana terjadi,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam keterangan tulis, Jumat (16/4/2021).

Tidak hanya itu, Pemda juga harus melakukan upaya mitigasi yang konkret seperti membangun rumah atau bangunan tahan gempa, menata ruang pantai yang aman tsunami, belajar cara evakuasi mandiri, dan meningkatkan kemampuan dalam merespons peringatan dini.

“Jujur diakui bahwa masih banyak yang menganggap sepele hal ini. Padahal ancaman gempa dan tsunami ini nyata dan bisa sewaktu-waktu terjadi,” ujarnya.

Baca juga: BMKG: Megatrust Tak Selalu Gempa Besar

Dwikorita mencontohkan, jalur evakuasi yang masih banyak yang kurang layak. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu dan membahayakan warga yang hendak mengungsi jika jalur evakuasi tersebut dibutuhkan.

“Kita berpacu dengan waktu, jadi bagaimana caranya warga ini bisa lari secepat-cepatnya diwaktu emas yang tersisa sebelum gelombang tsunami naik ke daratan,” jelasnya.

“Saya yakin, jika rambu-rambu tersedia, kondisi jalur evakuasi baik, ada shelter tempat evakuasi yang memadai dan layak, masyarakat dan aparat sudah sering berlatih evakuasi, bangunan menerapkan struktur tahan gempa, dan tata ruang sdh menghindari zona rawan, maka jumlah korban jiwa pasti akan jauh lebih sedikit,” tutup Dwikorita. (Ahmad/Red)

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru