Budidaya Maggot Warga Kaduronyok Dilirik Pemda

Budidaya Maggot

Harga maggot basah mencapai Rp8 ribu per kg, dan maggot yang sudah dikeringkan bisa mencapai Rp80 ribu-100 ribu per kg. (Syamsul/Bingar)

PANDEGLANG, BINGAR.ID – Budidaya maggot yang dikelola oleh warga Desa Kaduronyok, Kecamatan Cisata, Kabupaten Pandeglang, dilirik oleh Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Pandeglang.

Diskan mengaku akan membantu memasarkan hasil budidaya maggot serta mencari sumber bantuan yang menjadi kebutuhan pengelola.

“Kegiatan ini (budidaya maggot) memang tidak membutuhkan biaya mahal. Tapi penghasilannya cukup menjanjikan. Makanya saya mendukung ada warga yang memiliki kreativitas budidaya maggot ini,” ucap Kepala Diskan Pandeglang, Suaedi Kurdiatna saat meninjau lokasi budidaya maggot di Kaduronyok, Kamis (7/1/2021).

Baca juga: Mengatasi Persoalan Sampah Organik Pakai Maggot

Suaedi mengatakan, pihaknya tertarik untuk meningkatkan jumlah pembudidaya maggot. Soalnya, usaha tersebut tidak membutuhkan penanganan khusus. Bahkan saat mengurusnya pun tidak memeras waktu. Namun hasilnya menjanjikan sebagai sebuah penghasilan.

“Selain itu kegiatan ini juga tidak mesti harus laki-laki, tapi kaum ibu-ibu juga bisa, karena bukan pekerjaan berat. Bahkan untuk bahan bakunya juga saya rasa cukup mudah untuk didapatkan,” tandasnya.

Maggot merupakan binatang sejenis larva yang dihasilkan dari permentasi beberapa bahan limbah padi atau sekam yang dicampur dengan bahan lainnya, seperti minuman fermentasi, bubuk bumbu dapur kemasan, dan bahan lainnya.

Baca juga: Atasi Sampah, Pemkot Tangerang Kembangkan Budidaya Maggot

Maggot atau larva tersebut biasanya diperuntukan bagi pakan hewan ternak dan budidaya ikan air tawar. Bahkan katanya, maggot itu bisa mendorong percepatan pertumbuhan ikan dan hewan ternak seperti ayam.

Informasinya, harga maggot basah mencapai Rp8 ribu per kg, dan maggot yang sudah dikeringkan bisa mencapai Rp80 ribu-100 ribu per kg.

Muhamad Suherman, pembudidaya maggot di Desa Kaduronyok menjelaskan, untuk menghasilkan maggot dari bahan baku yang diolah, dirinya hanya membutuhkan waktu selama tiga pekan, mulai dari permentasi hingga panen.

“Dari satu kg bahan baku yang diolah itu bisa menghasilkan satu kg maggot,” katanya.

Baca juga: Pemkab Tangerang Tertarik Budidaya Maggot

Namun lanjut dia, dari bahan baku yang sudah diolah untuk menghasilkan maggot, harus dibuahi oleh Black Soldier Fly (BSF) ‘binatang sejenis lalat’. Karena jika tidak dibuahi oleh BSF, tidak akan jadi maggot.

“Setelah timbul maggot, bahan yang sudah diolah itu juga dicapur lagi dengan limbah sayuran, supaya pertumbuhan maggotnya lebih bagus lagi,” bebernya.

Namun demikian, dia mengaku masih mengalami keterbatasan dalam mengembangkan budidaya maggot, seperti belum adanya alat pengering dan tempat yang memadai.

“Alat pengering memang sangat kami butuhkan, selain itu juga tempat pengolahan maaih alakadarnya,” ujarnya. (Syamsul/Red)

Berita Terkait

Berita Terkait

Berita Terbaru